Sabtu, 28 April 2012

psikoterapi

TERAPI RASIONAL-EMOTIF ALBERT ELLIS Diperkelankan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 September 1913 di Pitssburgh, Pennsylvania, yang kemudian dibesarkan di New York. Ellis adalah alumnus dari City University of New York dalam bidang Business Administration dan setelah itu baru mengikuti pendidikan psikologi klinis pada tahun 1942, di Columbia University dan memperoleh gelar doctornya pada tahun 1947. Sebelumnya ia menjadi pengarang dengan status bebas, dan banyak menulis buku maupun artikel, terutama mengenai seksualitas, disamping pernah pula sebagai manajer personalia. Segera setelah menyelesaikan pendidikan doktornya, ia bekerja sebagai psikolog-klinis di New Jersey State Diagnostic Center, Menlo Park. Setahun kemudian ia menggabungkan diri dengan New Jersey Deparment of Instituions and Agencies di Treton. Bersamaan dengan jabatan – jabatannya, Ellis mempunyai praktik pribadi yang dilakukan sejak tahun 1943, mengkhususkan diri pada psikoterap dan konseling perkawinan. Ellis sendiri mengatakan bahwa dialah yang memelopori seks terapi. Ia juga seorang psikoanalis, yang merasakan bahwa pendekatan psikonalisis tidak efesien. Pada tahun 1959, ia ditunjuk sebagai Direktr Eksekutif pada Institute for Advanced Study in Rational Psycho-therapy di New York City. Jabatan penting yang pernah dipegangnya di American Psychological Association adalah ketika pada tahun 1961-1962 bertindak sebagai Ketua dari Division of Consulting Psychology. Sebagai seorang ilmuawan dan pengarang ia sangat produktif dalam menulis buku dan artikel. Sampai sekarang sudah lebih dari 50 buku dan 600 artikel ditulisnya dan salah satu bukunya yang terkenal yang berhubungan dengan teknik pendektannya, ialah Reason and Emotion in Psycho-therapy [1962]. Beberapa karya tulisnya dalam bentuk buku, antara lain ialah : - An Introduction to the Principles of Scientific Psycho analysis – 1950 - The Folklore of Sex 1951 - Sex, Society and the Individual – 1953 - The American Sexual Tragedy – 1954 - New Approaches to Psychotherapy Techniques 1955 - How to Live with Neurotic – 1957 - Guide to Rational Living 1961 - Reason and Emotion in Psychoterapy – 1962 - Growth Through Reason 1971 - Humanistic Psychotherapy: The Rational Emotive Therapy 1977 - Theoritical and Emphirical Faundatons of Rational Emotive Therapy ( bersama dengan J.M.Witheley ) – 1979 - Why some Therapies Don’t Work ( dengan R.J.Yeager ) – 1989 Therapy Rational – Emotive menurut Ellis berdasarkan pada konsep bahwa berpikir dan berperasaan saling berkaitan, namun dalam pendekatannya melebih menitik beratkan pada pikiran daripada ekspresi emosi seseorang. Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah : 1. Manusia mengkondisioning diri sendiri terhadap munculnya perasaan yang menggangu pribadinya. 2. Kecenderungan biologisme sama halnya dengan kecenderungan Kultural untuk berfikir salah dan tidak gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri. 3. Kemanusiaannya yang unik untuk menemukan dan mencipta keyakinan yang salah, yang menggganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan – gangguannya. 4. Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah proses – proses kognitif, emosi dan perilaku, memungkinkan dapat : a. Memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasa dilakukannya. b. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi. c. Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya. Pandangan terhadap konsep manusia dari sudut pendekatan teraphy rational – emotive dan perkemangan kearah timbulnya perasaan tidak bahagia karena gangguan emosi yang dialami, dikemuakan oleh Patterson (1980) sebagai berikut : 1. Manusia adalah pribadi unik, rasional dan tidak rasional. Bilamana manusia berfikir dan bertindak rasinal iay akan mampu bertindak efektif dan merasa bahagia. 2. Hambatan emosi atau hambatan psikologis, adalah akibat dari cara berfikir yang tidak rasional tidak logis. Emosi menyertai pikiran dan mini mengakibatnkan kurangnya rasional. 3. Pikiran yang tidak rasional berakar pada hal – hal yang tidak logis yang dipelajari sejak awal, sesuatu yang terjadi secara biologis diperoleh dari orang tua dan dari lingkungan budayanya. Dalam perkembangannya , seorang anak yang mengetahui atau mempelajari sesuatu yang baik, akan mengembangkan kehidupan emosinya yang postif ( misalnya, cinta kegembiraan). Sebaliknya jika diberitahukan atau diketahui bahwa sesuatu tidak baik atau tidak boleh dilakukan, maka terbentuk perkembangan emosi yang negative ( misalnya sakit marah atau depresi ). 4. Manusia berfikir dengan mempergunakan symbol dan bahasa. Karena pikiran menyertai emosi, jika emosinya terganggu, maka akan muncul pikiran tidak rasional. Pribadi yang menghambat akan terus mempertahankan keadaannya yang terhambat dan pikirannya yang tidak logis, dengan melakukan verbalisasi internal tentang pikiran dan tidak rasional. 5. Berlanjutnya hambatan emosi adalah akibat dari verbalisasi diri, yang dilakukan terhadap diri sendiri, jadi bukan sesuatu yang terjadi oleh pengaruh dari luar, melainkan dari pengamatan dan sikapnya terhadap sesuatu kejadianya. Ellis menekankan bahwa bukan situasi yang menyebabkan terjadinya encietas pada seseorang, melainkan pengamatan yang dilakukan prbadi terhadap sesuatu keadaan yang menimbulkan perasaan tidak enak. 6. Manusia memiliki sumber yang luas dan bebas untuk mengaktualisasikan kemampuan – kemampuannya dan dapat mengubah tujuan prbadi maupun sosialnya. Ellis melihat manusia sebagai pribadi yang unik, memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasannya untuk mengubah pandangan dasar dan system nilanya dan untuk melawan kecenderungan – kecenderungan untuk menolak diri sendiri, manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi system nilainya dan melatih diri sendiri dengan keyakinan dan system nilai yang lain. Sebagai akibatnya, ia akan bertindak sangat berbeda dengan tindakannya yang dulu. 7. Pikiran negative menyalahkan pikiran dan emosi diri sendiri, karena itu harus dilawan dengan menyusun kembali pengamatan dan pikirannya , sehingga menjadi logis dan rasional. Pendekatan terapi rasional – emotive menganggap bahwa manusia pada hakikatnya korban dari pola berfikirnya sendiri yang tidak rasional dan tidak benar. Karena itu Ellis berkomentar bahwa pendekatan humanistik terlalu lunak dan mengakibatkan persoalan pada diri sendiri karena berpikir tidak rasional. Karena itu terapis dengan pendekatan ini berusaha memperbaiki melalui pola berfikirnya dan menghilangkan pola berfikir yang tidak rasional terapi dilihatnya sebagai usaha untuk mendidik kembali ( reeducation), jadi terapis bertidak sebagai pendidik , dengan antara lain memberikan tugas yang haruis dilakukan pasien serta mengajarkan setrategi tertentu untuk memperkuat proses berfikirnya. Proses ini dilakukan dengan pendekatan langsung (direktif) dan atau pendekatan eklektik. Manusia sebagai makhluk berfikir dapat menghilangkan atau mengurangi gangguan emosi atau sesuatu yang menimbulkan perasaan tidak bahagia, dengan belajar berfikir rasional. Terapi bertujuan menghilangkan cara berfkir yang tidak logis, dan tidak rasional dan menggantinya menjadi sesuatu yang logis dan rasional. Terapis perlu memahami dunia pasien , perilaku pasien dari sudut pasien itu sendiri, memahami perilaku pasien yang tidak rasional, tanpa terlibat dengan perilaku tersebut sehingga memungkinkan terapis dapat mendorong pasien agar pasien menghentikan cara berfikir yang tidak rasional. Untuk melakukan hal ini ada tiga langkah : pertama, terapis menunjukan bahwa cara berfikir pasien tidak logis kemudian membantunya memahami bagaimana dan mengapai pasien sampai pada cara berfikir seperti itu, menunjukkan pula hubungan antara fikiran tidak logis dengan perasaan tidak bahagia atau gangguan emosi yang dialaminya. Pasien harus belajar membedakan antara keyakinan yang rasional dengan yang tidak rasional . Dalam hal ini terapis menantangnya apakah pasien akan meneruskan keyakinannya untuk merusak dirinya apakah tidak. Terapis mendorongnya bahkan lebih kuat lagi yakni mengintruksikan pasien agara melibatkan diri dalam kegiatan kegiatan, karena dengan melakukan kegiatan kegiatan tersebut , diharapkan dapat berfungsi untuk menghadapi perilaku yang menimbulkan masalah. Langkah kedua menunjukkan kepada pasien, bahwa pasien mempertahankan perilakunya yang terganggu karena pasien meneruskan cara berfikirnya yang tidak logis. Cara berfikir tidak logis inilah yang menyebabkan adanya gangguan sebgaimana yang dirsakan bukan dari kejadian atau pengalaman yang lain. Langkah ketiga bertujuan mengubah cara berfikir pasien dengan membuang cara berfikir yang tidak bagus terapis menggunakan teknik langsung dan tidak mendorong untuk membantu client membuang pikiran – pikiran tidak bagus, tidak rasional dan menggantinya dengan pikiran yang logis, yang rasional. Dalam hal ini, dibutuhkan peran aktif dari terapis. Langkah berikutnya ditujukan terhadap aspek yang lebih jauh lagi, tidak hanya menghadapi proses berpikir yang tidak logis terhadap hal-hal yang tidak khusus, melainkan terhadap hal-hal yang lebih luas yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kehidupan pasien didasari oleh keyakinan dan cara berpikir yang logis, yang rasional. Karena sasaran utama adalah pada aspek kognitifnya, maka hubungan antara terapis denagn pasien terjalin terlalu erat dan mendalam. Mengenai peran dan kegiatan terapis menurut Ellis (1973) adalah: 1. Bawalah pasien sampai pada akar persoalannya yang menimbulkan pikiran tidak rasional dan yang menimbulkan gangguan pada perilaku. 2. Doronglah pasien agar mengemukakan pikiran-pikirannya. 3. Tunjukan pada pasien dasar dari cara berpikirnya tidak logis. 4. Pergunakan analisis-logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan yang tidak rasional. 5. Kemukakan kepada pasien bagaimana keyakinan-keyakinan ini tidak jaln dan bagaimana hal tersebut akan menimbulkan gangguan emosi maupun perilaku di kemudian hari. 6. Pergunakan humor atau cara lain yang mungkin dirasakan aneh-aneh atau yang bukan-bukan seperlunya, untuk menghadapi cara berpikir pasien yang tidak rasional. 7. Jelaskan bagaimana pikiran-pikiran ini dapat diganti dengan pikiran lain yang lebih rasional dan yang memiliki dasar empirik yang kuat. 8. Ajarlah pasien bagaimana mempergunakan pendekatan ilmiah dalam proses berpikirnya, sehingga mereka dapay mengamati dan kemudian mengurangi cara berpikir yang tidak rasional dan tidak logis yang dapat menimbulkan kesulitan dalam dirinya di kemudian hari. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa terapi rasional-emotif ini mempergunakan pendekatan langsung untuk “menyerang” dan menghilangkan pikiran yang rasional dan logis. Agar dapat melakukan ini, terapis perlu mengetahui dunia pasien, mengetahui sikap dan perilakunya yang tidak rasional dan bagaimana pasien melihat hal-hal tersebut. Terapis mempergunakan pedekata aktif, direktif meskipun dipihak lain juga fleksibel dan di sana-sini dapat memperguanakan elektik. Teknik sugesti, persuasi, kronfontasi dan bahkan untuk mempengaruhi fungsi konitifnya seperti: tugas yang harus dilakukan (assignment homework), perubahan dalam mempergunakan kata atau bahasa. Dalam hal mempengaruhi fungsi (atau lebih jelasnya visualisasi, menggambarkan apa yang baik yang akan dilakukan), bermain peran (role-play) dan latihan menghadapi hal-hal yang memalukan (shame-attacking experience), sehingga pasien menyadari bahwa perasaan malu tersebut adalah ciptaannya sendiri. Berbeda dengan dekatan behaviorostik, pada pendekatan ini, memahami pasien dengan semua latra belakang, sumber dan perkembangannya, yang diperolah melalui berbagai prosedur Biasa dalam pemeriksaan psikologis, termasuk wawancara pendahuluan, yang tidak terlalu mendalam, masih di anggap perlu. Antara lain untuk mengetahui seberapa jauh pasien terganggu dengan keadaannya dan bagaiman gambaran kepribadian pasien dengan fungsi kognitif yang dimilki, agar bisa menentukan tingkatan, jenis dan teknik pendekatan yang akan di pergunakan. Pendekatan dengan teerapi rasional-emotif menurut Ellis (1997, 1978), dapat dipergunakan untuk menghadapi masalah-masalah klinis seperti: depresi, ansietas, gangguan kakteriologis, sikap melawan, masalah seks, percintaan, perkawinan. Pengasuhan, masalah perilaku pada anak dan remaja. Ternyata tidak hanya dalam bidang klinis saja pendekatan ini dapat dipakai, melainkan juga dalam lapangan lain, seperti dunia bisnis, hukum, olahraga dan organisasi. Pendekatan denag terapi rasional-emotif yang semula sebagai tekhnik terapi individual, ternyata dalam perkembangannya lebih lanjut, dapat diamalkan untuk terapi kelompok, terapi jangka pendek, bahkan terapi keluarga (family therapy). Dalam perkembangannya akhir-akhir ini, pendekatan ini sangat populer karena efektivitasdan keberhasilannya cukup tinggi, sebagaimana dilaporkan oleh para peneliti seperti Maultsb, Knipping & Carpenter (1974), Knaus & Boker (1975) dan Carmody (1977). 1. TERAPI RASIONAL-EMOTIF ALBERT ELLIS. KONSEP-KONSEP UTAMA • Pandangan Tentang Sifat Manusia. TRE adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir, dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan kea rah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhyul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tigkah laku lama yang disfungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri. Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengondisian awal. TRE menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Bagaimanapun, menurut TRE, manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain (Ellis, 1973a, hlm. 175-176). TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara simultan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Sebagaimana dinyatakan oleh Ellis (1974, hlm. 313), “ ketika mereka beremosi mereka juga berpikir dan bertindak. Ketika mereka berpikir, mereka juga beremosi dan bertindak”. Dalam rangka memahami tingkah laku menolak diri, orang harus memahami bagaimana seseorang beremosi , berpikir, mempersepsi, dan bertindak. Untuk memperbaiki pola-pola nyang disfungsional, seseorang idealnya harus menggunakan metode-metode perceptual-kognitif,emotif-evokatif, dan behavioristik reedukatif (Ellia, 1973a, hlm. 171). Tentang sifat manusia , Ellis (1967, hlm. 79-80) menyatakan bahwa baik pendekatan psikoanalitik Freudian maupun pendekatan eksistensial telah keliru dan bahwa metodologi-metodologi yang dibangun di atas kedua sistem psikoterapi tersebut tidak efektif dan tidak memadai. Ellis menandaskan bahwa pandangan Freudian tentang manusia itu keliru karena pandangan eksistensial humanistic tentang manusia,sebagian benar. Menurut Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhn ya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Orang-orang memiliki kesanggupan untuk mengonfrotasikan sistem-sistem nilainya sendiri dan mereindoktrinasi diri dengan keyakinan-keyakinan, gagasan-gagasan, dan nilai-nilai yang berbeda. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengondisian masa lampau yang pasif. Ellis tidak sepenuhnya menerima pandangan eksistensial tentang kecenderungan mengaktualkan diri disebabkan oleh fakta bahwa manusia adalah makhluk-makhluk biologis dengan kecenderungan-kecenderungan naluriahnya yang kuat untuk bertingkah laku dengan cara-cara tertentu. Dari situ Ellis menyatakan bahwa bila individu-individu tidak dikondisikan untuk berpiir dan merasa dengan cara tertentu, maka merek cenderung untuk bertingkah laku dengan cara demikian meskipun mereka menyadari bahwa tingkah laku itu menolak dan meniadakan diri. Ellis berpendapat, tidaklah tepat anggapan menyebutkan bahwa pertemuan eksistensial denga teraqpis yang bersikap menerima, permisif, dan otentik biasanya membongkar pola-pola tingkah laku meniadakan diri yang berakar dalam. TRE dan Teori Kepribadian Pandangan teoritis tentang ciri-ciri tertentu kepribadian dan tingkah laku berikut gangguan-gangguannya memisahkan terapi rasional-emotif dari teori yang melandasi sebagian besar pendekatan terapi yang lainnya. Rangkuman pandangan TRE tentang manusia adalah sebagai berikut. Neurosis, yang didefenisikan sebagai “berpikir dan bertingkah laku irasional”, adalah suatu keadaan alami yang pada taraf tertentu menimpa kita semua. Keadaan ini berakar dalam pada kenyataan bahwa kita adalah manusia dan hidup dengan manusia-manusia lain dalam masyarakat. Psikopatologi pada mulanya dipelajari dan diperhebat oleh timbunan keyakinan-keyakinan irasional yang berasal dari orang-orang yang berpengaruh selama masa kanak-kanak.. bagaimanapun, kita secara aktif membentuk keyakinan-keyakinan keliru dengan proses-proses otosugesti dan repetisi diri. Oleh karena itu, sikap-sikap yang difungsional hidup dan bekerja di dalam diri kita lebih disebabkan oleh pengulangan pemikiran-pemikiran irasional yang diterimakan pada masa dini yang dilakukan oleh kita sendiri daripada oleh pengulangan yang dilakukanolehorangtua. Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis (1976, hlm. 82) menyatakan bahwa “gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik, dan terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah”. TRE menekankan bahwa menyalahkan adalah inti sebagian besar gangguan emosional. Oleh karena itu , jika kita ingin menyembuhkan orang yang neurotic atau psikotik, kita harus menghentikan penyalahan diri dan penyalahan terhadap orang lain yang ada pada orang tersebut. Orang perlu belajar untuk menerima dirinya sendiri dengan segala kekurangannya. Kecemasan bersumber pada pengulangan internal dari putusan “aku tidak menyukai tingkah laku sendiri dan aku ingin mengubahnya” dan kalimat menyalahkan diri “karena tingkah laku yang keliru dan kesalahan-kesalahanku, aku menjadi orang yang tak berharga, aku malu, dan aku patut menderita.” Menurut TRE, kecemasan semacam itu tidak berguna. Orang bisa dibantu untuk menyadari bahwa putusan-putusan irasional yang dipertahankannya itu keliru dan untuk melihat penyalahan diri yang telah menjebaknya. TRE menandaskan bahwa orang-orang tidak perlu diterima dan dicintai, bahkan meskipun hal itu diinginkannya. Terapis mengajari para klien bagaimana merasakan kesakitan, bahkan apabila para klien itu memang tidak diterima dan tidak dicintai oleh orang-orang lain yang berarti. Meskipun mendorong orang-orang untuk mengalami kesedihan karena tidak diterimna oleh orang-orang lain yang berarti, terapis TRE berusaha membantu mereka untuk mengatasi segenap manifetasi dari depresi, kesakitan, kehilangan rasa berharga dan kebencian. TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mereindoktrinasi diri gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autosugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru itu dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus-menerus diinternalisasi dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kekalahan diri. Ellia (1967, hlm. 48), berpendapat sebagai berikut: 1. Gagasan bahwa sangat perlu bagi orang dewasa untuk dicintai atau disetujui oleh setiap orang yang berarti di masyarakatnya; 2. Gagasan bahwa seseorang harus bernar-benar kompeten, layak dan berprestasi dalam segala hal jika seseorang itu menginginkan dirinya dihormati. 3. Gagasan bahwa orang-orang tertentu buruk, keji, atau jahat, dan harus dikutuk dan dihukum atas kejahatannya. 4. Gagasan bahwa lebih mudah menghindari daripada mengahadapi kesulitan-kesulitan hidup dan tanggung jawab pribadi; 5. Gagasan bahwa adalah merupakan bencana yang mengerikan apabila hal-hal menjadi tidak seperti yang diharapkanm; 6. Gagasan bahwa ketidakbahagiaan manusia terjadi oleh penyebab-penyebab dari luar dan bahwa orang-orang hanya memiliki sedikit atau tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan kesusahan-kesusahan dan gangguan-gangguannya dan 7. Gagasan bahwa masa lampau adalah determinan yang terpenting dari tingkah laku seseorang sekarang dan bahwa karena dulu sesuatu pernah mempengaruhi kehidupans eseorang, maka sesuatu itu sekarang memiliki efek yang sama. Teori A-B-C tentang kepribadian Teori A-B-C tentang kepribadian sangatlah penting bagi teori dan praktek TRE. A adalah keberadaan suatu fakta, suatu peristiwa, tingkah lakuatau sikap seseorang. C adalah konsekuensi atau reaksi emosional seseorang; reaksi ini bisa layak bisa pula tidak layak. A (peristiwa yang mengaktifkan) bukan penyebab timbuknya C (konsekuensi emosional). Alih-alih, B, yaitu keyakinan individu tentang A, yang menadi penyebab C, yakni reaksi emosional. Misalnya, jika sesorang mengalami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan ,penolakan atau kehilangan teman hidup. Ellis berkeyakinan akan penolakan dan kegagalan (pada B) adalah yang menyebabkan depresi (pada C), jadi bukan peristiwa perceraian yang sebenernya (pada A). jadi, manusia bertanggung jawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan-gangguannya sendiri. Bagaimana gangguan emosional dipertahankan? Gangguan emosional itu dipertahankan oleh putusan-putusan yang tidak logis yang terus-menerus diulang oleh individu, seperti “aku benar-benar bersalah karena bercerai,” “aku memang sial,dan swgala yang kulakukan salah,” “aku orang yang tak berharga,” “ aku merasa kesepian dan tertolak, dan ini adalah bencana yang mengerikan.” Ellis (1974, hlm. 312) menyatakan bahwa “anda merasakan sebagaimana yang anda pikirkan”. Reaksi-reaksi emosional yang terganggu seperti depresi dan kecemasan diarahkan dan dipertahankan oleh sistem keyakinan yang meniadakan diri, yang berlandaskan gagasan-gagasan yang irasional yang telah dimasukkan oleh individu ke dalam dirinya. Meskipun Ellis percaya bahwa gangguan-gangguan emosional bisa dihilangkan atau diperbaiki dengan menangani perasaan-perasaan (depresi, kecemasan, kebencian, ketakutan, dan sebagainya) secara langsung, ia menyatakan bahwa “teknik yang paling cepat, paling mendasar, paling rapi, dan memiliki efek paling lama untuk membantu orang-orang dalam mengubah respons-respons emosionalnya yang disfungsionalnya barangkali adalah mendorong mereka agar mampu melihat dengan jelas apa yang dikatakan oleh mereka kepada diri mereka sendiri – pada B, sistem keyakinan mereka tentang stimulus-stimulus yang mengenai diri mereka pada A (pengalaman-pengalaman yang mengaktifkan) dan mengajari mereka bagaimana secara aktif dan tegas membantah (pada D). keyakinan-keyakinan irasional mereka sendiri” (Ellis, 1974, hlm. 312-313) Pada kesempatan ;ain, Ellis (1973a,hlm. 179-180) menandaskan bahwa karena manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu “melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghapus keyakinan-keyakinan yang menyabotase diri sendiri”. Untuk memahami dan mengonfrontasikan sistem-sistem keyakinan diperlukan disiplin diri, berpikir, dan belajar. Perubahan-perubahan kuratif dan preventif atas kecenderungan-kecenderungan menciptakan gangguan menjadi mungkin iika orang-orang dibantu dalam usahanya memperoleh pemahaman atas “pemikiran yang serong” dan atas “beremosi dan bertindak yang tidak layak”. Bagaimana membantu orang-orang untuk mengubah “sistem-sistem keyakinan magis”nya? Ellis (1973a, hlm. 179-180) menjawab, “melalui terapis yang sangat aktif-direktif, didaktif, filosofis, dan yang merancang pekerjaan rumah bagi klien-lah (yang boleh jadi memiliki ataupun tidak memiliki hubungan pribadi yang hangat dengan mereka) mereka tampaknya akan lebih bisa mengubah secara radikal keyakinan keyakinan pencipta geala mereka disbanding dengan apabila mereka ditangani oleh terapis psikoanalitik ,client-centered, eksistensialis konvensional, atau oleh terapis pemodifikasi tingkah laku klasik”. TRE berasumsi bahwa karena keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai irasional orang-orang berhubungan secara kausal dengan gangguan-gangguan emosional dan behavioral-nya, maka cara yang paling efisien untuk membantu orang-orang itu dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah mengonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafar hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana gagasan-gagasan mereka sampai menjadikan mereka terganggu, menyerang gagasan-gagasan iraqsional mereka di atas dasar-dasar logika, dan mengajari mereka bagaimana berpikir secara logis dan karenanya mendorong mereka untuk mampu mengubah atau menghapus keyakinan-keyakinan irasionalnya serta menyerang, menantang, mempertanyakan, dan membahas keyakinan-keyakinan yang irasional itu. Setelah A-B-C menyusul D, membahas bahwa pada dasarnya D adalah penerapan metode ilmiah umtuk membantu para klien menantang keyakinan-keyakinannya yang irasional yang telah mengakibatkan gangguan-gangguan emosi dan tingkah laku. Karena prinsip-prinsip logika bisa diajarkan, prinsip-prinsip ini biusa digunakan untyuk menghancurkan hipotesis-hipotesis yang tidak realistis dan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Metode logikoempirus ini bisa membantu para klien menyingkirkan -ideologi yang merusak diri. CONTOH : 1. Misalnya jika seseorang mengalami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan, penolakan atau kehilangan teman hidup. 2. Misalnya juga kita merasakan sangat tidak percaya diri saat berada di hadapan banyak orang, bukan di hadapan banyak orang itu yang menyebabkan timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan orang itu tentang penolakan dan ketakutannya DAFTAR PUSTAKA : Gunarsa,D.Singgih (1996) Konseling dan Psikoterapi Jakarta : PT.BPK Gunung mulia Gerald Corey (2007) Teori dan Praktek Konseling Bandung : PT Refika aditama NAMA : RIEFA AMANDA PUTRI , 10509254 , 3PA03 KELAS : 3PA03